Medan, DizOne News — Dunia pers di Sumatera Utara kembali diguncang dugaan intimidasi terhadap jurnalis. SP, pimpinan salah satu media online di Medan, mengaku diculik dan ditekan oleh sejumlah orang yang diduga melibatkan oknum anggota TNI AD setelah medianya menerbitkan laporan investigasi soal praktik ilegal kondensat dan judi meja tembak ikan di Kabupaten Langkat.
Peristiwa itu terjadi pada Selasa malam, 12 Mei 2026. Dugaan penculikan bermula ketika SP dihubungi seorang wartawan berinisial FK yang mengaku ingin membagikan informasi terkait peredaran narkoba di Binjai. Pertemuan kemudian disepakati berlangsung di sebuah kafe di Kota Medan.
Namun, situasi berubah setelah SP tiba di lokasi. Ia mengaku didatangi dua pria tak dikenal dan dipaksa masuk ke dalam mobil dengan alasan memberikan klarifikasi atas berita yang telah diterbitkan medianya.
“Setelah saya datang ke lokasi, tiba-tiba saya didatangi dua pria tak dikenal. Saya dipaksa masuk ke dalam mobil,” kata SP, Selasa malam.
Di dalam kendaraan, SP mengklaim melihat seorang pria mengenakan seragam loreng yang diduga anggota TNI AD. Dalam kondisi tertekan, ia mengaku dipaksa membuat video klarifikasi untuk membantah isi pemberitaan investigasi medianya.
“Saya ditekan untuk membuat video klarifikasi. Isinya, saya harus menyatakan bahwa berita soal kondensat dan judi tembak ikan itu tidak benar,” ujarnya.
Menurut SP, tekanan tidak berhenti di situ. Ia juga diminta memberikan alasan palsu apabila keberadaannya ditanyakan rekan wartawan atau keluarga.
“Mereka bilang, kalau ada wartawan lain bertanya, bilang saja ada acara ulang tahun atau surprise,” kata SP menirukan ucapan terduga pelaku.
Kasus ini menambah daftar panjang dugaan intimidasi terhadap jurnalis di Indonesia, khususnya ketika pemberitaan menyentuh isu dugaan praktik ilegal dan aparat keamanan. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari pihak Kodam I/Bukit Barisan belum memberikan keterangan resmi terkait keterlibatan anggotanya.(dn)
