Nganjuk, DizOne News – Pernyataan Presiden Prabowo Subianto dalam acara Peresmian Operasionalisasi 1061 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih menjadi perhatian publik setelah menyinggung pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang telah menembus level Rp17.000-an.

Dalam pidatonya, Presiden menyampaikan bahwa masyarakat desa tidak menggunakan dolar, sehingga pelemahan nilai tukar dinilai tidak perlu disikapi secara berlebihan.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks penguatan ekonomi desa melalui koperasi sebagai fondasi ekonomi nasional. Presiden menekankan pentingnya memperkuat ekonomi berbasis kerakyatan agar ketahanan ekonomi nasional tidak sepenuhnya bergantung pada gejolak eksternal.

Pernyataan tersebut kemudian memicu beragam respons di ruang publik. Sejumlah pihak menilai bahwa meskipun masyarakat desa tidak melakukan transaksi langsung menggunakan dolar, pelemahan nilai tukar tetap dapat berdampak secara tidak langsung terhadap kehidupan ekonomi masyarakat.

Dalam sistem ekonomi modern, perubahan nilai tukar dapat memengaruhi harga barang melalui mekanisme rantai pasok. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat dan dapat berdampak pada harga bahan baku, biaya produksi, serta distribusi barang di dalam negeri.

Salah satu sektor yang dinilai rentan terhadap kondisi tersebut adalah pangan. Komoditas kedelai, misalnya, masih memiliki ketergantungan terhadap pasokan impor. Pelemahan rupiah dapat mendorong kenaikan harga bahan baku yang pada akhirnya memengaruhi harga produk turunan seperti tahu dan tempe yang banyak dikonsumsi masyarakat.

Selain itu, sektor pertanian juga berpotensi terdampak melalui kenaikan biaya pupuk, pestisida, alat pertanian, hingga suku cadang yang memiliki keterkaitan dengan rantai pasok global.

Kenaikan biaya distribusi juga menjadi faktor yang dapat memengaruhi harga kebutuhan pokok di wilayah pedesaan, terutama daerah yang bergantung pada pasokan dari luar wilayah.

Dalam kajian ekonomi, kondisi tersebut dikenal sebagai exchange rate pass-through, yakni ketika perubahan nilai tukar diteruskan ke harga barang dan jasa domestik melalui biaya produksi dan distribusi.

Dengan demikian, pelemahan rupiah tidak selalu dirasakan secara langsung pada saat yang sama, tetapi dapat muncul secara bertahap melalui kenaikan harga barang dan tekanan terhadap daya beli masyarakat.

Perdebatan terkait pernyataan tersebut menunjukkan bahwa isu nilai tukar tidak hanya berkaitan dengan pasar finansial, tetapi juga memiliki keterkaitan dengan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai lapisan, termasuk di wilayah pedesaan. (nr)

avatar DizOne News

By DizOne News

DizOne News adalah portal berita independen yang berbasis di Nusa Tenggara Barat (NTB), hadir sebagai ruang baru bagi informasi yang jernih, akurat, dan inspiratif. Kami lahir dari semangat anak muda daerah yang ingin menghadirkan wajah baru jurnalisme digital yakni jurnalisme yang tidak sekadar memberitakan, tetapi juga memberi makna dan mendorong kesadaran publik.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari DizOne News

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca