Semarang, DizOne News — Tiga hari pertama atau 72 hours survival menjadi periode krusial dalam menghadapi bencana, khususnya gempa bumi. Berangkat dari pentingnya kesiapsiagaan tersebut, mahasiswa Magang Kependidikan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) bekerja sama dengan SMA Negeri 11 Semarang menggelar pelatihan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB).
Kegiatan yang berlangsung pada Senin, 13 April 2026 ini mengusung tema “Kesiapsiagaan 3 Hari Bertahan Hidup (72 Hours Survival)”. Pelatihan dibuka oleh Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala SMA N 11 Semarang, Eko Ardinuryadin, S.Pd., M.Pd., serta dihadiri Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan sekaligus koordinator guru pamong, M. Noor Wachid Affandi, S.Kom.
Pelatihan menghadirkan dua pemateri dengan fokus materi yang saling melengkapi. Pemateri pertama, Firza Yudha Arinanto, menyampaikan materi bertajuk “Siap & Sigap: Edukasi Gejala serta Dampak Gempa Bumi”. Dalam sesi ini, peserta dibekali pemahaman mengenai definisi gempa, gejala awal, faktor penyebab, hingga langkah-langkah kesiapsiagaan dan pemulihan pascabencana.
Sementara itu, pemateri kedua, Sulistiawan, memaparkan strategi mitigasi gempa bumi yang menitikberatkan pada langkah preventif serta tindakan yang harus dilakukan sebelum, saat, dan setelah gempa terjadi.
Untuk memperkuat pemahaman peserta, kegiatan juga dilengkapi dengan simulasi mitigasi bencana yang diperagakan oleh anggota Pramuka dan Palang Merah Remaja (PMR). Simulasi tersebut mencakup prosedur penyelamatan diri, teknik evakuasi korban, hingga praktik pertolongan pertama seperti pembidaian dan pemindahan korban secara aman.
Antusiasme peserta terlihat dari kehadiran penuh 36 siswa kelas X-3 serta partisipasi aktif 20 siswa dari ekstrakurikuler PMR dan Pramuka. Para peserta juga memberikan respons positif terhadap kegiatan tersebut.
Salah satu peserta menyampaikan bahwa pelatihan ini memberikan gambaran nyata mengenai situasi saat gempa terjadi, sekaligus membantu mereka memahami cara menyelamatkan diri dan menolong orang lain.
Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran serta keterampilan siswa dalam menghadapi bencana. Lebih dari itu, pelatihan ini menjadi langkah konkret dalam mewujudkan lingkungan sekolah yang tanggap, aman, dan berkelanjutan.(pj)
