Jakarta, DizOne News — Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (PP KAMMI), Nazmul Watan, mengajak masyarakat Indonesia untuk tetap tenang, rasional, dan tidak mudah terprovokasi oleh berbagai informasi yang belum terverifikasi di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global dan tantangan ekonomi nasional.

Menurut Nazmul, eskalasi ketegangan geopolitik di berbagai kawasan dunia dalam beberapa waktu terakhir telah memberikan dampak terhadap perekonomian global. Dampak tersebut antara lain terlihat dari fluktuasi harga energi, ketidakpastian pasar keuangan, pergerakan nilai tukar mata uang, hingga tekanan terhadap rantai pasok internasional yang secara tidak langsung turut memengaruhi kondisi ekonomi Indonesia.

Ia menilai masyarakat perlu menyikapi berbagai perkembangan tersebut secara proporsional dan tidak terjebak dalam kepanikan maupun spekulasi yang berlebihan.

“Situasi global saat ini memang penuh ketidakpastian. Masyarakat menyaksikan adanya fluktuasi nilai tukar rupiah, kenaikan harga BBM non-subsidi, dinamika pasar modal, hingga berbagai isu ekonomi lainnya. Namun kita perlu melihat persoalan ini secara utuh dan proporsional, bukan dengan kepanikan atau spekulasi yang berlebihan,” ujar Nazmul Watan.

Nazmul menjelaskan bahwa gejolak ekonomi yang terjadi saat ini bukan hanya dialami Indonesia, melainkan juga hampir seluruh negara di dunia yang tengah menghadapi tekanan akibat konflik geopolitik, perlambatan ekonomi global, serta perubahan arah perdagangan dan investasi internasional.

Menurutnya, masyarakat perlu memahami perbedaan antara persoalan struktural global dan persoalan domestik agar tidak mudah terjebak dalam narasi yang menyesatkan maupun kecenderungan menyalahkan satu pihak secara berlebihan.

“Kita harus memahami bahwa Indonesia tidak berdiri sendiri. Hampir semua negara menghadapi tantangan yang sama. Karena itu masyarakat perlu membedakan antara persoalan struktural global dan persoalan domestik agar tidak mudah terjebak pada narasi yang menyesatkan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Nazmul menilai tantangan seperti kenaikan harga energi, tekanan terhadap nilai tukar rupiah, maupun gejolak harga kebutuhan pokok harus menjadi momentum untuk memperkuat daya tahan ekonomi nasional. Ia mendorong percepatan berbagai program penguatan sektor riil yang sedang dijalankan pemerintah guna menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri.

Di sisi lain, ia mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menyikapi informasi yang beredar di ruang digital. Menurutnya, banyak isu ekonomi yang disajikan secara parsial sehingga berpotensi menimbulkan kepanikan publik, mulai dari isu kelangkaan BBM, krisis fiskal, pelemahan rupiah, hingga berbagai spekulasi terkait kondisi perekonomian nasional.

“Kami mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang tidak jelas sumbernya. Jangan langsung menyebarkan kabar yang belum terverifikasi. Banyak informasi ekonomi yang membutuhkan penjelasan utuh dan konteks yang lengkap,” tegasnya.

Nazmul menambahkan bahwa Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam menghadapi berbagai krisis, mulai dari krisis ekonomi 1998, krisis global 2008, hingga pandemi COVID-19. Dari berbagai pengalaman tersebut, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas nasional melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat sipil.

Ia menegaskan bahwa kritik dan pengawasan publik tetap penting dalam sistem demokrasi, namun harus didasarkan pada data dan fakta yang dapat dipertanggungjawabkan.

“Yang dibutuhkan bangsa saat ini adalah optimisme yang rasional, bukan pesimisme yang dibangun dari informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Nazmul juga mengajak generasi muda, khususnya mahasiswa dan kalangan intelektual, untuk berperan aktif meningkatkan literasi ekonomi dan literasi digital di tengah masyarakat. Menurutnya, mahasiswa memiliki tanggung jawab moral untuk menghadirkan informasi yang mencerahkan dan membantu masyarakat memahami berbagai persoalan secara objektif.

“Mahasiswa harus menjadi penjernih informasi di tengah derasnya arus disinformasi. Bangsa ini membutuhkan generasi yang mampu berpikir kritis, objektif, dan tetap berpijak pada kepentingan nasional,” ujarnya.

Menutup pernyataannya, Nazmul mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjaga persatuan dan solidaritas sosial di tengah berbagai tantangan global yang dihadapi saat ini. Ia menegaskan bahwa kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan besarnya pasar domestik, tetapi juga pada kemampuan masyarakat untuk tetap bersatu dalam menghadapi berbagai ujian.

“Kita boleh berbeda pandangan politik maupun ekonomi, tetapi jangan sampai perbedaan itu mengorbankan persatuan bangsa. Mari kita hadapi setiap tantangan dengan kepala dingin, semangat gotong royong, dan keyakinan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk melewati masa-masa sulit sebagaimana yang telah dilakukan pada berbagai periode sebelumnya,” tutup Nazmul Watan.(dn)

avatar Don

By Don

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari DizOne News

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca